Asal-usul Gunung Arjuna
The Origin of Mount Arjuna
Alkisah dalam pewayangan dikenal lima bersaudara yang biasa disebut dengan Pandawa, yang memiliki arti putra Pandu. Kelima bersaudara tersebut adalah Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Diantara para Pandawa, Arjuna terkenal dengan kesaktiannya.
terutama dalam hal memanah. Meskipun memiliki ilmu paling tinggi, Arjuna masih sering melakukan tapa untuk menambah kesaktiannya. Suatu hari, Arjuna pergi bertapa dipuncak gunung. Suasana sejuk dan jauh dari pemukiman membuat tempat itu sangat cocok untuk bertapa. Arjuna kemudian duduk bersila di atas sebuah batu besar seraya memejamkan mata
dan memusatkan pikirannya. Sesaat kemudian Arjuna terlarut dalam semedinya. Siang dan malam dia bertapa dengan tekun, hingga tubuhnya memancarkan sinar yang memiliki kekuatan luar biasa. Hal ini menimbulkan persoalan besar di kahyangan Suralaya. Kahyangan tempat para dewa berguncang. Kawah Candradimuka mendidih dan menyemburkan muntahan lahar.
Petir menggelegar di siang bolong. Puncak gunung tempat Arjuna bertapa terangkat ke atas hingga hampir menyentuh langit. Karena begitu dahsyatnya kekuatan yang terpancar dari pertapaan itu, jika ada burung yang berani terbang di atasnya pasti akan jatuh, hingga tak ada satupun makhluk yang berani mengganggunya.
Peristiwa tersebut membuat para Dewa di Kahyangan menjadi khawatir, kemudian Bathara Guru segera memanggil Bathara Narada serta mengutusnya turun ke bumi untuk mencari tahu penyebab semua kekacauan ini. Setelah terbang berputar-putar di angkasa, Batara Narada melihat Arjuna sedang bertapa. Segera dia terbang menghampiri dan membujuk agar Arjuna segera menghentikan tapa bratanya.
“Cucuku Arjuna, bangunlah dari tapamu. Semua orang bahkan para Dewa akan celaka bila kau tak menghentikannya.” Sebenarnya Arjuna mendengar perintah itu, akan tetapi dia enggan menghentikan semedinya. Di dalam benak Arjuna jika dia berhenti para dewa tidak akan memberinya banyak kesaktian. “ Baiklah jika engkau keras kepala aku akan mengambil tindakan.
“ Bathara narada mengirim bidadari cantik untuk menggoda Arjuna agar mengakhiri semedinya. Para bidadari segera merayu Arjuna dengan berbagai cara. Ada yang merayu dengan suara lembut, ada yang menari-nari di depannya, serta ada pula yang mencubit dan menggelitiknya. Namun semua usaha tersebut tetap saja sia-sia.
Tak hanya berenti disitu Batara Narada kemudian mengirim beberapa setan yang paling ganas untuk menghentikan pertapaan Arjuna. Akan Tetapi sekali lagi hal itu juga sia-sia, Arjuna tetap khusyuk di dalam pertapaanya. Usaha terakhir yang dilakukan oleh Bathara Narada adalah mengirimkan naga raksasa yang suka memakan orang-orang sakti, sang Naga pun segera menyerang Arjuna dengan sekuat tenaga namun serangan itu terhenti sebelum mengenai Arjuna.
Seolah dia memiliki pelindung yang tak kasat mata yang mengelilingi dan melindunginya. Bahkan semburan api sang naga terpental dan kembali mengenai dirinya sendiri. Akhirnya naga itu pun menyera dan pergi meninggalkan Arjuna. Sekali lagi Bathara Narada gagal menghentikan semdi sang putra ketiga Pandu itu.
Dia kemudian kembali menemui Bathara Guru. “ Narada, sepertinya kamu gagal menjalankan tugasmu ?” “ Benar Batara Guru, Maafkan saya. Namun sepertinya kita masih punya kesempatan untuk menghentikan Arjuna.” “ Katakan. Bagaimana kesempatan yang kamu maksudkan !” “ Tidak ada jalan lain.
Kita harus meminta bantuan pengasuh Arjuna yaitu Batara Semar. “ “ Baiklah, kali ini kamu harus berhasil.” Batara Narada pun pergi menemui Batara Semar. “ Selamat datang Batara Narada, hal mendesak apa yang membuat pengurus kayangan sampai turun ke bumi . “ “ Batara semar. Kedatanganku untuk meminta bantuanmu, tentang anak asuhmu yang bernama Arjuna .
” “ Ada apa dengannya ? Apa yang dilakukannya ?” Batara Narada kemudian menceritakan semua perbuatan Arjuna. Dia juga menceritakan telah melakukan berbagai cara untuk menghentikan pertapaan Arjuna, namun semuanya sia-sia. “ Kamulah satu-satunya harapan para dewa di khayangan yang bisa membujuk Arjuna, agar segera mengakhiri pertapaanya.
” “ Baiklah, kalau begitu. Aku akan berusaha menyadarkannya. “ Setelah Batara Narada kembali ke Kayangan, Semar termenung sendirian dan sibuk mencari akal. Dia pun teringat saudaranya yang bernama Batara Antaga atau Togog. Kemudian Semar berangkat menemui Togog untuk meminta bantuan. Togog menyambut dengan gembira atas kedatangan saudaranya itu.
Semar pun menceritakan perihal tugas yang diberikan kepadanya. “ Jika para dewa saja gagal menghentikan Arjuna, bagaimana dengan kita ? " " Sudah ikut saja denganku !” Setibanya gunung tempat Arjuna bertapa. Keduanya sempat terkejut melihat gunung itu sudah menjulang tinggi. Mereka kemudian berpencar.
Masing-masing menempati sisi gunung itu. Lalu mereka bersemedi untuk menghimpun kesaktian. Tubuh Semar dan Togog lalu berubah menjadi tinggi besar. Tingginya melampaui puncak gunung itu. Lalu mereka mengeruk bagian bawah puncak dan memotongnya.
Mereka melemparkan puncak gunung itu ke tempat lain. Begitu bagian atas gunung itu terjatuh ke tanah, terdengar suara dentuman yang sangat keras disertai dengan guncangan yang dahsyat. “ Ada apa ini ?” Baru saja selesai bergumam, tiba-tiba semar dan Togog datang menghampirinya.
“ Kami memotong dan melemparkan puncak gunung ini raden ! “ “ Kenapa guru ? Gara-gara itu aku terbangun dari pertapaanku. Tentu para Dewa tidak akan menambah kesaktianku !” “ Maaf raden! Justru pertapaanmu itu telah membuat para dewa resah. Lagi pula untuk apalagi Raden meminta banyak kesaktian ? Bukankah sudah cukup dengan kesaktian yang telah raden miliki saat ini ?" “ Benar kata Batara Semar, Raden adalah seorang kesatria yang seharusnya memiliki sifat rendah hati.
Apakah Raden tidak menyadari jika pertapaan Raden ini bisa mencelakakan banyak orang dan para Dewa ? “ Mendengar nasehat tersebut, Arjuna menjadi sadar dan mengakui semua kesalahannya. Ia juga tidak lupa berterima kasih kepada Batara Semar dan Batara Togog karena telah menyadarkannya. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan gunung tersebut.
Kahyangan pun tidak lagi berguncang. Dan alam kembali tenang seperti sedia kala. Sejak itulah gunung tempat Arjuna bertapa dinamakan Gunung Arjuna. Sementara itu potongan gunung yang dilemparkan oleh Batara Semar dan Batara Togog dinamakan Gunung Wukir.
Belum ada Komentar untuk "Asal-usul Gunung Arjuna"
Posting Komentar